Menulis Feature

Feature merupakan sebuah “Karangan Khas” yang menuturkan fakta, peristiwa, atau proses disertai penjelasan riwayat terjadinya, duduk perkaranya, proses pembentukannya, dan cara kerjanya. Sebuah feature umumnya lebih Mengedepankan why dan how.

Ada Dua Jenis Feature

1)        Feature Berita  

Lebih banyak mengandung unsur berita. Untuk itu lebih banyak berhubungan dengan peristiwa aktual yang menarik perhatian di masyarakat.

2)        Feature Artikel  

Lebih cenderung segi sastra. Biasanya dikembangkan dari sebuah peristiwa yang sudah tidak aktual sehingga penekanan pada keindahan bahasa.

 

 Tipe/model feature ada 4 macam:

Berdasarkan tipenya, feature dapat dibedakan menjadi:

1) Feature Human Interest

Tulisan feature tipe ini, lebih menyentuh jiwa. Seorang penulis lebih menggunakan perasaan dalam mengungkap fakta. Keharuan, kegembiraan, kejengkelan     lebih   ditonjolkan   dengan   bahasa-bahasa   yang    menyentuh.

Misalnya: Cerita masyarakat jember yang terkena banjir bandang. Kisah seorang anak yang tidak bias sekolah karena terhimpit ekonomi. Dll.

2) Feature Biografi

Tulisan feature tipe ini, lebih banyak mengungkap tentang pribadi seseorang. Ada sudut pandang yang menjadi bidikan seorang penulis feature.

Misalnya: Riwayat seorang yang mempunyai prestasi di bidang olah raga. Riwayat seseorang yang memiliki keunikan sehingga layak untuk menjadi berita yang perlu dibaca orang lain.

3)   Feature Perjalanan

Tulisan feature tipe ini, lebih banyak mengungkap tentang sebuah perjalanan. Dalam tulisan feature ini unsure subyektifitasnya sangat tinggi. Hal ini karena biasanya penulis feature ikut langsung dalam perjalanan.

Misalnya: Perjalanan jamaah haji Indonesia ke Tanah Suci Mekah. Perjalanan ke tempat bersejarah. Dll.

4) Feature Sejarah

Tulisan feature tipe ini, lebih banyak mengungkap tentang peristiwa sejarah masa lalu. Feature semacam ini biasa dimuat untuk mengenang sebuah peristiwa yang pernah terjadi pada masa lalu.

Misalnya: Peristiwa merebut kemerdekaan dari penjajah. Peristiwa 10 Nopember dengan mengkaitkan peristiwa saat ini, sehingga tulisan itu menarik untuk dibaca.

5)  Feature Petunjuk Praktis (Tips)

Tulisan feture tipe ini, lebih banyak menginformasikan tentang sebuah keahlian.

Misalnya: Bagaimana merangkai bunga. Bagaimana mendesain rumah yang tanahnya sempit terkesan indah dan praktis. Dll.

 

  Contoh Featur:

Dikutip dari Buletin Ikhlas (Informasi & Komunikasi Harmonis Al-Azhar Kelapa Gading Surabaya) Edisi

Izinkan Aku Menciummu Ibu

Oleh: Bunda Nita

Sewaktu masih kecil, aku sering merasa dijadikan pembantu olehnya. Ia selalu menyuruhku mengerjakan tugas-tugas seperti menyapu lantai dan mengepelnya setiap pagi dan sore. Setiap hari aku ‘dipaksa’ membantunya memasak di pagi buta sebelum ayah dan adik-adikku bangun. Bahkan sepulang sekolah, ia tidak mengizinkanku bemain sebelum semua pekerjaan rumah dibereskan. Sehabis makan, akupun haus mencucinya sendiri juga piring bekas masak dan makan yang lain. Tidak jarang aku merasa kesal dengan semua beban yang diberikannya hingga setiap kali mengerjakannya aku selalu bersungut-sungut.

Kini, setelah dewasa aku mengerti kenapa dulu ia melakukan itu semua. Karena aku akan menjadi seorang istri dari suamiku, ibu dari anak-anakku yang tidak akan pernah lepas dari semua pekerjaan masa kecilku dulu. Terima kasih ibu, karena engkau aku menjadi istri yang baik dari suamiku dan ibu yang dibanggakan oleh anak-anakku.

Saat pertama kali aku masuk sekolah di Taman Kanak-kanak, ia yang mengantarku hingga masuk ke dalam kelas. Dengan sabar pula ia menunggu. Sesekali kulihat dari jendela kelas, ia masih duduk di seberang sana. Aku tidak peduli dengan setumpuk pekerjaannya di rumah, dengan rasa kantuk yang menderanya, atau terik, atau hujan. Juga rasa jenuh dan bosannya menunggu. Yang penting aku senang ia menungguiku sampai bel berbunyi.

Kini, setelah aku besar, aku malah sering meninggalkannya, bermain bersama teman-teman, bepegian. Tak pernah aku menungguinya ketika ia sakit, ketika ia membutuhkan pertolonganku  di saat tubuhnya melemah. Saat aku menjadi orang dewasa, aku meninggalkannya karena tuntutan rumah tangga.

Di usiaku menanjak remaja, aku sering merasa malu berjalan bersamanya. Pakaian dan dandanannya yang kuanggap kuno jelas tak serasi dengan penampilanku yag trendi. Bahkan seringkali aku sengaja mendahuluinya berjalan dua-tiga meter di depannya agar orang tak menyangka aku sedang bersamanya. Padahal menurut cerita orang, sejak aku kecil ibu memang tak pernah memikirkan penampilannya, ia tak pernah membeli pakaian baru, apalagi perhiasan. Ia sisihkan semua untuk membelikanku pakaian yang bagus-bagus agar aku terlihat cantik. Ia pakaikan juga perhiasan di tubuhku dari sisa uang belanja bulanannya. Padahal aku juga tahu, ia yang dengan penuh kesabaran, kelembutan, dan kasih sayang mengajariku berjalan. Ia mengangkat tubuhku ketika aku terjatuh, membasuh luka di kaki dan mendekapku erat-erat saat aku menangis.

Selepas SMA, ketika aku mulai memasuki dunia baruku di perguruan tinggi. Aku semakin merasa jauh berbeda dengannya. Aku yang pintar, cerdas, dan berwawasan seringkali menganggap ibu sebagai orang bodoh, tak berwawasan hingga tak mengerti apa-apa. Hingga kemudian komunikasi yang berlangsung antara aku dengannya hanya sebatas permintaan uang kuliah dan segala tuntutan keperluan kampus lainnya.

Usai wisuda sarjana, baru aku mengerti, ibu yang kuanggap bodoh, tak berwawasan, dan tak mengerti apa-apa itu telah melahirkan  anak cerdas yang mampu meraih gelar sarjananya. Meski ibu bukan orang berpendidikan, tetapi do’a di setiap sujudnya, pengorbanan dan cintanya jauh melebihi apa yang sudah kuraih. Tanpamu Ibu, aku tak akan pernah menjadi aku yang sekarang.

Pada hari pernikahanku, ia menggandengku menuju pelaminan. Ia tunjukkan bagaimana meneguhkan hati, memantapkan langkah menuju dunia baru itu. Sesaat kupandang senyumnya begitu menyejukkan, jauh lebih indah dari keindahan senyum suamiku. Usai akad nikah, ia langsung menciumku saat aku bersimpuh di kakinya. Saat itulah aku menyadari, ia juga yang pertama kali membeikan kecupan hangatnya katika aku terlahir ke dunia ini.

Kini setelah aku sibuk dengan urusan rumah tanggaku, aku tak pernah lagi menjenguknya atau menanyai kabarnya. Aku ingin menjadi istri yang shaleh dan taat kepada   suamiku   hingga  tak   jarang  aku  membunuh  kerinduanku  pada Ibu.

Sungguh, kini setelah aku mempunyai anak, aku baru tahu bahwa segala kiriman uangku setiap bulannya tak lebih berarti dibandingkan kehadiranku untukmu. Aku akan datang dan menciummu Ibu, meski tak sehangat cinta dan kasihmu kepadaku.

 

Feature Human Interest

Radar Surabaya, 13 Maret 2006

Dia Selalu Ngajak Bapaknya Bergurau

Kabut sedih dan derai air mata terlihat jelas, saat jenazah Ilham Yudhistira turun dari ambulance RSU dr. Soetomo. Sejumlah warga berbondong-bondong dan berebutan membawa jenazah Ilham yang hanya berbalut kain kafan.

Ketika jenazah Ilham melintas, dari pintu rumah salah seorang warga, muncul seorang wanita memakai daster bermotif kembang-kembang langsung menangis histeris. “Ilham, anakku, jangan tinggalkan ibu,” teriak wanita yang diketahui sebagai ibu korban, Yuliana. Puluhan soot mata langsung menatap yuliana yang tak lama kemudian, tubuhnya dibopong seorang wanita untuk memasuki ruang tamu. Dengan tetesan air mata yang terus mengalir di kedua pipinya. Yuliana terus meratapi kematian putranya.

Saat pemandangan memilukan itu berlangsung, RADAR Surabaya mencoba mendekatai Yuliana. “Ilham, jangan tinggalkan ibu,” kata Yuliana sambil menangis. Setelah ditenangkan sejumlah ibu-ibu, Yuliana hanya terdiam. Pengakuan Yuliana, ia tidak menduga akan ditinggal putra sulungnya menghadapi Sang Khaliq. “Saya tidak mengira anak saya berumu pendek. Padahal, saya ingin membesarkan Ilham sampai berhasil. Tapi Tuhan bekehendak lain,” ucap Yuliana menitikkan air mata.

Yuliana mengaku sempat melihat keganjilan tingkah laku Ilham sebelum terjadi kecelakaan maut di Jl. Nambangan, “Semalam, sebelum Ilham kecelakaan, ia tampak riang gembira, dan selalu menempel ke bapaknya (Edi Suprianto). Sesekali Ilham mengajak bapaknya begurau. Pokok’e tidak seperti biasanya,” ujar Yuliana dengan pandangan kosong. “Sudah ya, saya mau melihat putra saya untuk terakhir kali,” terangnya, saat pamit ke RADAR Surabaya.

Lagi-lagi, pemandanga memilukan terlihat di depan mata. Yuliana menangis mareung-aung meratapi kematian Ilham. Tapi, seketika ibu-ibu di sekitar Yuliana langsung membawanya pergi dari hadapan jenazah Ilham, diiringi tatapan mata yang berlinangan air mata.

 

Feature Petunjuk Praktis (Tips)

Bunda Edisi 237, September 2005

Jaga Kesehatan dengan Bersepeda

Menjaga agar keluarga tetap sehat, selalu diperhatikan oleh Ferry Salim. Salah satu cara yang dilakukannya adalah dengan beolahraga setiap pagi. Baik jalan maupun bersepeda.

“Tapi, karena Brandon dan Brendan sangat suka bersepeda, olah raga pagi yang seing kami lakukan adalag bersepeda. Tidak jauh. Cukup berkeliling perumahan sekitar sini. Yang penting kan keluar keringat,” ujar pemain sinetron Nyai Dasima itu.

Untuk jadwalnya, lanjut Ferry, dilakukan sekitar pukul 06.00 WIB hingga pukul o7.00 WIB. Kalaupun tidak sempat di pagi hari, waktunya diganti pada sore hari, yang penting setiap hari berolahraga.

“Untuk olahraga, saya memang sedikit ketat. Sebab, itu kan penting buat kesehatan,” ujar Fery sambil memluk Brandon dan Brenda yang ada di sampingnya.

“Tapi, saya juga tidak membatasi Brandon dan Brenda harus berolahraga pada jam itu. Kalau mereka ingin bersepeda di lain waktu, ya boleh-boleh saja,’ imbuhnya.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *